Nyeri Pinggang, dari Saraf Terjepit Hingga Cedera Gerakan


Rasa nyeri pada bagian pinggang atau disebut juga dengan low back pain paling tidak pernah diderita 60 persen orang dalam hidupnya. Penyebabnya beragam, tapi gejalanya sama yakni nyeri di bagian punggung yang mengganggu.
Menurut studi tahun 2002 di poli saraf Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, nyeri pinggang merupakan penyakit tersering kedua setelah sakit kepala yang dikeluhkan pasien.

Nyeri pinggang, menurut dr.Mahdian Nur Nasution, spesialis bedah saraf, bisa disebut akut dan kronis. Keluhan nyeri pinggang akut jika rasa nyerinya tajam dan bersifat sementara atau dapat hilang sendiri.

Sedangkan nyeri pinggang kronik biasanya berlangsung lebih dari 3 bulan dan penyakitnya hilang timbul.

"Nyeri pinggang kronik bisa mengindikasikan kerusakan struktur, baik itu pada tulang, otot, atau saraf," kata Mahdian dalam acara media edukasi yang diadakan oleh Klinik Nyeri & Tulang Belakang Jakarta di kawasan Mampang Jakarta Selatan (24/11/15).

Nyeri pinggang adalah nyeri yang tampak sederhana tapi sulit diobati. Ada lebih dari 60 penyebab yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini. Karena itu diperlukan pemeriksaan yang teliti sehingga penanganannya juga optimal.

Mahdian menjelaskan, nyeri pinggang yang dialami oleh orang berusia produktif biasanya disebabkan karena cedera akibat gerakan atau postur yang salah.

"Misalnya saja membungkuk dengan beban berlebih, mengangkat melebihi kemampuan tulang belakang, atau memutar," ujarnya.

Postur tubuh yang salah saat berdiri, mengetik di komputer, atau pun jarang berolahraga, juga bisa membuat kita rentan mengalami sakit pinggang.

Ada beberapa penyebab nyeri pinggang yang tidak teridentifikasi. Misalnya saja karena gangguan sendi (40 persen), discus atau bantalan tulang (26 persen), sendi panggul (2 persen), dan saraf terjepit (13 persen).

"Setiap penyebab memiliki gejala yang khas. Dokter biasanya bisa menduga hanya dengan mengenali pola nyerinya dan juga pemeriksaan fisik. Jika masih tidak jelas baru dilakukan pemeriksaan radiologi sebagai penunjang," katanya.

Pengobatan nyeri pinggang disesuaikan dengan penyebabnya. Jika keluhan nyeri menetap meski telah diberikan obat, biasanya dokter akan menyarankan pembedahan.

Meski begitu saat ini ada pilihan pengobatan lain, yakni interventional pain management yang bisa membantu meredakan nyeri pinggang. Misalnya saja suntikan ke dalam sendi, radiofrekuensi, kateter, dan masih banyak lagi.

"Setelah tindakan intervensi pasien juga harus olahraga rutin untuk menguatkan otot-otot dan juga memperhatikan postur tubuh agar nyeri pinggang tak kembali lagi,"

Benarkah Minum Kopi Saat Hamil Pengaruhi IQ Bayi?


Efek kafein terhadap perkembangan bayi sempat menimbulkan banyak perdebatan. Namun bagi Anda pecinta kopi, kabar ini mungkin membawa angin segar.
Sebab, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology pada 18 November lalu, secangkir kopi sehari tak memberikan efek negatif pada bayi.
Studi tersebut memaparkan, konsumsi kafein dalam jumlah yang kecil selama kehamilan tidak terkait dengan risiko kesehatan pada bayi hingga mereka beranjak dewasa. Termasuk, tidak memberikan pengaruh pada tinggi atau rendahnya IQ pada anak-anak.
Untuk mendapatkan kesimpulan, peneliti melibatkan 2.200 wanita di Amerika Serikat yang sering mengonsumsi kopi selama hamil. Termasuk para wanita yang hamil di antara tahun 1959 dan 1974 (menggunakan data milik peneliti Nationwide Children's Hospital in Columbus, Ohio) di mana pada tahun tersebut, konsumsi kopi sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
 Kemudian, para peneliti menilai IQ dan prilaku anak-anak dari para koresponden. Hasilnya, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa konsumsi kafein selama kehamilan memiliki efek pada anak-anak.
Dalam analisis sebelumnya, para peneliti juga menemukan bahwa konsumsi kafein selama kehamilan tidak terkait dengan risiko obesitas pada anak-anak.
"Secara keseluruhan, kami mempertimbangkan hasil studi kami dan meyakinkan para ibu hamil bahwa mengonsumsi kafein secara wajar atau setara dengan satu cangkir kopi per hari tidak menimbulkan efek berbahaya pada perkembangan IQ anak-anak mereka kelak," kata Dr Mark Klebanoff, peneliti utama dari Center for Perinatal Research at Nationwide's Research Institute.
Namun, peneliti tetap menyarankan ibu hamil untuk berkonsultasi pada dokter kandungan untuk menghindari efek negatif pada kehamilan yang berisiko.

EVEK BEGADANG


Ingin lebih sehat? Isi nasihat terbanyak yang mungkin Anda dapatkan ialah rutin berolahraga atau ajakan untuk memilih makanan kaya gizi.Sayangnya, nasihat untuk memperbaiki pola tidur masih terbilang sedikit.

Padahal, sekitar sepertiga dari hidup, dihabiskan untuk tidur. Artinya, tidur memiliki peran penting dalam mewujudkan misi Anda untuk hidup lebih sehat. Para  peneliti dari Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles, CA, memiliki buktinya.
Para peneliti membandingkan, antara efek kurang tidur dengan pilihan makanan tinggi lemak terhadap sensitivitas insulin dalam tubuh. Ketika sensitivitas insulin Anda rendah, maka tubuh Anda memompa insulin ke dalam darah yang dapat menyebabkan diabetes tipe 2.
Untuk mendapatkan hasil, peneliti mengukur sensitivitas insulin dalam dua kelompok anjing jantan. Satu kelompok anjing dianalisa setelah mengonsumsi makanan tinggi lemak selama enam bulan. Kelompok lainnya dianalisa setelah tidak tidur selama 1 malam.
Ditemukan, satu malam kurang tidur menyebabkan penurunan sensitivitas insulin sebesar 33%. Sedang pada kelompok anjing yang mengonsumsi makanan tinggi lemak selama enam bulan panjang, sensitivitas insulin berkurang 21%. Artinya, kurang tidur selama 1 malam, lebih mungkin meningkatkan risiko diabetes ketimbang makan tinggi lemak selama 6 bulan.
"Studi kami menunjukkan bahwa satu malam kurang tidur dapat merugikan sensitivitas insulin layaknya mengonsumsi makanan tinggi lemak," kata Dr Josiane Broussard.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya tidur yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah dan mengurangi risiko penyakit metabolik seperti obesitas dan diabetes.
Dr Caroline M. Apovian, juru bicara The Obesitas Society menanggapi, "Sangat penting bagi para praktisi kesehatan untuk menekankan pentingnya cukup tidur kepada pasien mereka. Banyak pasien memahami pentingnya diet seimbang, tetapi mereka belum memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana pola tidur bisa sangat mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh."

Satu dari 3 Orang Dewasa Sehat akan Terkena Diabetes Dalam Hidupnya


Hampir setengah dari orang berusia 45 tahun akan terkena apa yang biasa disebut pradiabetes, tingkat gula darah tinggi, yang sering mengawali diabetes.

Pradiabetes, terkadang disebut gangguan metabolisme glukosa, tidak mempunyai gejala yang jelas. Meski begitu, mereka yang kadar gula darahnya tinggi harus melakukan cek darah rutin untuk diabetes setiap satu atau dua tahun.

Menurut penelitian berskala besar dari The Netherlands, satu dari tiga orang dewasa sehat akan terkena diabetes dalam hidupnya.

Para peneliti dari Erasmus University Medical Center di Rotterdam dan Harvard School of Public Health di Boston menggunakan data jangka panjang pada sekitar 10 ribu orang dewasa di Belanda, termasuk rekaman medis, surat-surat dari rumah sakit, data keluaran apotek, dan Puasa pengukuran gula darah.

Mereka memantau orang-orang tersebut sekitar 15 tahun, mengelompokkan tingkat gula darah mereka berdasarkan standar WHO.

Tingkat gula darah sekitar 6 milimol per liter (108 miligram per desiliter) atau lebih rendah dinyatakan normal atau sehat. Tingkat di atas 6 milimol per liter dan di bawah 7 milimol per liter (108-128 mg/dl) dinyatakan mengalami kenaikan atau pradiabtes, dan tingkat sekitar 7 mmol/L atau lebih dinyatakan diabetes.

Sekitar tiga perempat dari orang-orang dengan kenaikan gula darah pada usia 45 akan terkena diabetes, dan setengah dari mereka yang telah terkena diabetes sebelumnya akan mulai mengonsumsi insulin.

Berat badan berlebih atau lingkar pinggang besar juga akan meningkatkan resiko terkena penyakit yang disebut kencing manis ini.

Berdasarkan hasil penelitian ini, setengah dari populasi dengan gula darah normal akan mengembangkan tingkat pradiabetik dan mungkin harus mengubah gaya hidup untuk pencegahan atau obat-obatan untuk mengurangi resiko.

“Orang-orang harus tahu resiko mereka dan jika mereka mempunyai resiko lebih tinggi, maka mereka harus melakukan metode intesif untuk mengurangi resiko diabetes ke depannya,” kata Dr.Kamlesh Khunti, salah satu peneliti.

Masih Muda Kok Diabetes?


Saat ini diabetes bukan hanya "milik" orang berumur tua. Semakin banyak orang berusia di antara 20 sampai 30 tahun memiliki kadar gula darah tinggi, atau bahkan didiagnosis dengan pre-diabetes dan diabetes.
Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup modern yang dijalani zaman sekarang. Sebenarnya, diabetes bisa Anda hindari, dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan berikut menjadi lebih sehat:

Melewatkan Sarapan

Dengan jadwal yang padat, "lupa sarapan" adalah alasan klasik untuk melewatkan sarapan. Padahal, sarapan penting sebagai sumber energi untuk aktivitas selama sehari, dan berperan dalam mengontrol gula darah.

Berdasarkan hasil studi University of Minnesota School of Public Health, membiarkan tubuh kelaparan hingga siang dapat mengganggu stabilitas gula darah. Belum lagi, menahan lapar sepanjang pagi akan membuat Anda makan lebih banyak pada saat makan siang.
Sediakan waktu untuk sarapan setiap pagi, dan pilih menu yang kaya nutrisi untuk mengawali hari. Anda bisa memilih sumber karbohidrat kompleks seperti sepiring oatmeal, yang ditemani susu rendah lemak.

Konsumsi Minim Serat

Serat merupakan pahlawan bagi pencernaan Anda. Berita baik lainnya, nutrisi yang satu ini memperlambat perubahan karbohidrat menjadi gula, sehingga mencegah peningkatan gula darah.

Tingkatkan konsumsi serat lewat sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Anda bisa memasukkan variasi sumber serat ini ke dalam menu makanan setiap hari.

Begadang

Tahukah Anda bahwa tidur kurang dari enam jam sehari dapat merusak hormon pengatur gula darah dan tingkat rasa lapar? Otomatis, kebiasaan begadang membuat Anda menjadi lebih rentan terhadap diabetes. Jadikan waktu tidur sebagai bagian dari prioritas, antara 7-8 jam setiap harinya.

Kurang Aktivitas Fisik

Kapan terakhir Anda berolahraga? Kesibukan sehari-hari terkadang sebegitu padatnya sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk aktivitas fisik.

Semakin jarang bergerak semakin banyak pula jumlah kalori tersimpan dalam tubuh. Tingginya kalori membuka peluang lebih besar akan risiko kegemukan dan diabetes.
Bukan berarti Anda yang berat badannya normal bebas dari diabetes. Kurangnya aktivitas fisik juga membuat metabolisme dalam tubuh lebih lambat, termasuk bagaimana tubuh mengontrol gula darah.

Luangkan waktu untuk olahraga atau aktivitas fisik lainnya tiga sampai empat kali dalam seminggu. Anda bisa menggunakan waktu senggang di akhir pekan atau setelah selesai waktu kerja.

Konsumsi Minuman Sarat Gula dan Kalori
Alkohol, minuman manis, dan soda lumrah dikonsumsi sehari-hari karena rasanya memang enak dan manis. Padahal, jenis minuman ini memiliki kandungan kalori dan gula tidak sedikit.

Kalau berlebihan manis di depan, malah diabetes di belakang. Maka itu, sebaiknya ketika haus bisakan lebih banyak minum air putih.

Jika harus minum kopi atau teh, gunakan gula rendah kalori sebagai pengganti gula biasa. Misalnya, Anda bisa memilih Tropicana Slim Sweetener untuk solusi yang lebih sehat.

Fluktuasi Hormon Bikin Pria Alami Gejala "Menstruasi"


Satu dari empat pria di Inggris percaya mengalami "menstruasi". Mereka melaporkan dalam sebuah survei gejala serupa sindroma pramenstruasi seperti kram, lelah, mudah marah, ingin makan dan mudah tersinggung.
Hampir dua pertiga wanita yang memiliki pasangan yang mengalami gejala-gejala pra menstruasi itu percaya gejala itu pada pria benar-benar ada. Seperlima wanita yang disurvei mengakui pasangan mereka menghadapi "menstruasi" itu lebih buruk dari mereka sendiri.
Survei yang dilakukan oleh vouchercloud.co.uk itu menanyai 2.412 orang (separuhnya adalah pria). Mereka ini punya pasangan selama minimum 12 bulan.
Poling tersebut menemukan 26 persen pria mengalami gejala yang mirip menstruasi. Lima gejala teratas meliputi mudah marah (56 persen), lebih mudah lelah (51 persen), nafsu makan meningkat (47 persen), mudah lapar (43 persen), mudah tersinggung (43 persen) dan kembung (15 persen).

Lalu 12 persen pria mengaku lebih sensitif dengan berat badannya serta lima persen percaya mengalami kram perut.
Mayoritas wanita setuju pasangan mereka mengalami masa "menstruasi" seperti dirinya. Lebih mengejutkan lagi, ketika ditanya apakah mereka memberikan dukungan khusus kepada mereka selama periode itu, 43 persen wanita mengakui mendukung.

Namun mereka yang tak memberikan dukungan khusus, 33 persen mengakui hanya memberi tahu pasangan untuk bangkit dan menjadi pria.
Menurut poling ini, rata-rata pria yang percaya mengalami "menstruasi" menghabiskan uang ekstra sebesar USD 124,62 (sekitar Rp 1,6 juta) untuk membeli makanan dan kudapan setiap bulan, termasuk membeli makanan untuk dibawa pulang.

Pria yang mengalami "menstruasi" juga menghabiskan uang ekstra USD 97,35 (sekitar Rp 1,2 juta) per bulan untuk mengatasi keinginan makan enak.
Dr Jed Diamond, penulis buku The Irritable Male juga percaya bahwa pria juga mengalami periode "menstruasi". Ia pernah melakukan riset terhadap kondisi yang juga dikenal dengan nama Irritable Male Syndrome.
"Diasumsikan bahwa wanita dipengaruhi oleh hormon dan pria digerakkan oleh logika," kata Diamond. "Tetapi pria punya juga sejumlah siklus hormon dan hal ini mempengaruhi kadar energi, kemarahan, dorongan seks dan sifat lekas marah," ujarnya.
Konsep "menstruasi pria" ini sudah lama dipelajari oleh banyak periset yang percaya kadar hormon pria yang berfluktuasi dengan siklus bulanan.
Pada 1950-an ilmuwan Denmark Allan Erslev mengumpulkan sampel urin pria dan menemukan kadar hormon naik dan turun dalam ritme 30 hari. Ia menemukan pertumbuhan janggut juga berfluktuasi di waktu yang sama.
Sebuah studi dari Inggris yang dipublikasikan pada 2012 menemukan pria mengalami gejala serupa sindroma pra menstruasi, seburuk seorang wanita. Dr Aubeeluck dari University of Derby mengatakan hal ini dapat terjadi karena stres atau karena pria dan wanita memiliki ambang berbeda untuk rasa nyeri.
Ia mengatakan,"Ada beberapa bukti yang menemukan ambang nyeri berbeda antara pria dan wanita sehingga nyeri bisa saja merupakan persepsi dari nyeri itu sendiri."
"Mungkin wanita mengalami lebih banyak nyeri tapi tidak menaruh banyak perhatian. Ketika Anda menanyai orang untuk memberi peringkat nyeri, peringkat itu agak subyektif,"

Mengapa Sulit Tidur Setelah Lari Jarak Jauh?

 
Kesehatan tidur dan performa olahraga sangatlah penting. Tanpa istirahat yang baik, stamina seseorang tidak akan dapat mencapai titik optimal. Performa fisik seseorang mendapatkan modal dasarnya saat tidur. Jangan lupa kemampuan konsentrasi dan respon refleks juga hanya dibangun saat tidur.

Setelah berolah raga, tidur juga jadi penting untuk mengembalikan sel-sel tubuh yang terpakai. Otot-otot dipulihkan, peredaran darah diperlancar dan segala ketegangan juga dikendurkan.

Tak banyak yang tahu bahwa gerakan-gerakan yang dilatih berulang juga diperhalus dan dipoles saat tidur.

Namun beberapa sahabat pelari mengeluhkan sulit tidur setelah berlari beberapa kilometer. Padahal, menurut mereka, badan sudah sangat lelah. Ya, badan memang sudah sangat lelah, tetapi berolah raga hingga mencapai batas kemampuan akan meningkatkan kadar adrenalin tubuh. Anda jadi bersemangat, segar bugar, dan sulit tidur.

Untuk tidur yang nyaman, segala ketegangan harus dikendurkan.  Berikut tips menghindari insomnia setelah berlari:

• Setelah berlari, jangan langsung ingin secepatnya tidur.
• Turunkan adrenalin dengan aktivitas yang menyenangkan namun menenangkan.
• Jarak waktu ideal selesai berolah raga dan tidur adalah 3 jam.
• Waktu paling baik untuk berolah raga adalah di pagi hari.
• Biarkan lari jadi aktivitas yang bersifat rekreasional.





powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme